2020

Apple meluncurkan prosesor M1 ☀︎


Andrei Frumusanu menulis untuk AnandTech:

Apple claims the M1 to be the fastest CPU in the world. Given our data on the A14, beating all of Intel’s designs, and just falling short of AMD’s newest Zen3 chips – a higher clocked Firestorm above 3GHz, the 50% larger L2 cache, and an unleashed TDP, we can certainly believe Apple and the M1 to be able to achieve that claim.

Intel menghitung hari.


Apple bertarung dengan Epic Games mempertaruhkan masa depan App Store ☀︎


Ben Thompson menulis untuk Stratechery:

Indeed, this is the most frustrating aspect of this debate: Apple consistently acts like a company peeved it is not getting its fair share, somehow ignoring the fact it is worth nearly $2 trillion precisely because the iPhone matters more than anything.

Pertarungan di sekitar App Store makin lama makin besar. Akankah berakhir dengan keputusan antitrust bagi Apple.


Apple akan menggunakan prosesor berbasis ARM untuk Mac masa depan ☀︎


Tom Warren menulis untuk The Verge:

Apple is officially moving to its own silicon chips for some of its Mac hardware. Calling it a “historic day for the Mac,” Apple CEO Tim Cook detailed the transitions to PowerPC, Mac OS X, and the move to Intel chips before unveiling its plans to use Apple’s own ARM-powered silicon in Macs in the future. It’s a big move that means macOS will support native iOS apps and macOS apps side by side on these new machines in the future.

Aku sangat menantikan langkah baru ini. Tim silikon Apple sudah terbukti kelas dunia. Intel mungkin dalam bahaya.


Tiga puluh lima ☀︎


Tiga puluh lima tahun adalah waktu yang cukup panjang bagi seorang manusia. Setara dengan 1825 minggu, atau setara 12775 hari, atau setara 306600 jam, atau setara 18396000 menit atau setara 1103760000 detik. Tapi tetap saja rasanya tiga puluh lima tahun terasa sangat singkat.


Cerita-cerita mudik ☀︎


Matahari sudah mulai menyengat di pelipis, tapi bus malam yang kunaiki ini baru sampai tanjakan Gentong. Biasanya jam segini aku sudah tertidur pulas di kasur di rumah Sumedang. Ada sms masuk dari Bapa, “udah sampai mana?”. “Gentong”, kujawab saja dengan singkat. Tak ada jawaban lagi, mungkin beliau sudah tahu aku akan mengalami cobaan yang berat.

Biasanya aku pulang naik bus BE dari Jogja, tapi kadang-kadang pakai KD seperti sekarang ini kalau tiket BE sudah habis. Tidak seperti BE dengan jalur utara yang lewat Sumedang sebelum ke Bandung, KD memilih rute selatan via Nagrek. Alhasil aku harus berhenti di gerbang tol Cileunyi sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan angkot 04 ke arah Sumedang.

KD bukan armada kemarin sore, tapi entah kenapa hari ini aku kebagian bus yang bener-bener payah. Kecepatan rata-rata di bawah 40 km/jam. Kutengok ke belakang, asap knalpotnya hitam pekat. Supir sudah terlihat bercucuran keringat berusaha memacu kendaraannya untuk melaju lebih kencang. Tapi sekuat apapun ia berusaha tetap saja tak bisa membuat bus ini jalan lebih cepat.

Tanjakan Gentong adalah tantangan terberatnya. Selain Nagrek, ini adalah tanjakan paling legendaris di jalur selatan Jawa Barat. Mulai dari Rumah Makan Gentong di ujung paling bawah, sepenggal jalan ini sudah memakan banyak korban di kecuramannya. Tampaknya bus ini tak akan sanggup menjalani ujian hidup ini. Seperti halnya John Terry yang terpeleset saat mengambil penalti di final Liga Champions 2008, bus ini pun tampaknya akan mengalami nasib tragis yang sama.

Benar saja, setelah mencoba beberapa saat dengan nafas ngos-ngosan, pak supir malang sudah menyerah memacu kendaraannya. Bus sudah pasrah. Berhenti di tengah-tengah tanjakan dengan kelokan tajam. Mobil-mobil lain di belakang sudah membunyikan klaksonnya tapi tentu saja itu sia-sia. Bus sudah tak bisa jalan lagi. Apalagi di tanjakan ini.

Supir akhirnya memasang rem tangan dan mematikan mesin. Ia berdiri di depan bis, menghadap ke penumpang. Raut mukanya sudah menunjukkan kelelahan dari pertarungannya hari ini, tapi juga dari bekas menyupiri trayek Jogja-Bandung PP tanpa istirahat berarti selama beberapa hari terakhir ini. Ia memanfaatkan situasi mudik karena biasanya bayarannya lebih banyak, agar bisa membawa pulang THR buat anak istri di kampung. Setelah menyapu pandangan ke penumpangnya, ia membuka suara dengan parau, “Bapak, Ibu, mohon maaf bus mogok. Silakan turun untuk menunggu bus di belakang yang bisa mengangkut”.

Aku sudah tahu ini akan terjadi, tapi tetap saja ada kecewa. Aku sudah menghabiskan waktu lebih dari 12 jam di perjalanan, dan jam segini belum sampai juga di rumah. Pantat sudah panas. Punggung sudah berteriak ingin rebahan. Leher sudah capek terlipat layaknya origami tak ditopang bantal. Akhirnya aku turun dan menunggu. Seperti menunggunya Zaenab pada Si Doel. Entah akan terbalas atau tidak.

Setelah duduk di pinggir jalan selama setengah jam, akhirnya datang juga bus yang mau mengangkut kami. Berhubung mereka juga jalan dengan kapasitas hampir penuh, kami harus berdesak-desakan masuk bus. Saya kebagian di lantai belakang, persis di depan toilet bus. Bau khas pesing terkena panas mesin menusuk hidung. Keringat sesama penumpang sudah bercampur dengan pengharum ac yang sudah tak dingin lagi.

Ah, perjuangan untuk mudik.


Sebagian orang ☀︎


Sebagian orang merasa tidak berdaya & cemas.

Sebagian orang merasa bosan.

Sebagian orang dikarantina sendiri dan kesepian.

Sebagian orang benar-benar menikmati waktu lebih dengan anak-anak mereka dan akan merindukannya ketika sudah selesai.

Sebagian orang baru saja selesai dari shift dobel berturut-turut di rumah sakit dan tidak bisa memeluk keluarga mereka.

Sebagian orang mengunjungi restoran favorit mereka untuk terakhir kalinya dan tidak menyadarinya.

Sebagian orang meninggal karena COVID-19.

Sebagian orang tidak dapat berhenti membaca berita.

Sebagian orang tidak mampu membeli sabun.

Sebagian orang sedang belajar cara memasak sendiri.

Sebagian orang harus bekerja dari rumah sambil secara mencoba mengajari anak-anak mereka.

Sebagian orang adalah orang tua tunggal yang berusaha untuk bekerja dari rumah sambil mengajari anak-anak mereka.

Sebagian orang hidup dari gaji ke gaji dan gaji berikutnya tak akan tiba.

Sebagian orang tidak layak menjadi pemimpin.

Sebagian orang muncul jadi pemimpin-pemimpin baru.

Sebagian orang pulang kampung menggunakan truk.

Sebagian orang tidak bisa mudik.

Sebagian orang tidak dapat pergi ke toko karena berisiko kesehatan.

Sebagian orang kehilangan pekerjaan.

Sebagian orang tidak bisa tidur.

Sebagian orang menonton opera online gratis.

Sebagian orang telah dikarantina selama berminggu-minggu.

Sebagian orang tidak dapat bekerja dari jarak jauh.

Sebagian orang telah terkena COVID-19 dan belum mengetahuinya.

Sebagian orang tidak dapat fokus pada pekerjaan karena cemas.

Sebagian orang tidak mampu membayar sewa rumah bulan depan.

Sebagian orang masih berkumpul rame-rame.

Sebagian orang menjaga kita tetap hidup dengan mengambil risiko besar.

Sebagian orang tetap salat tarawih berjamaah.

Sebagian orang puasa tanpa ada makanan berbuka.

Sebagian orang tidak membeli cukup sabun cuci tangan.

Sebagian orang membeli terlalu banyak sabun cuci tangan.

Sebagian orang kehilangan terapis mereka.

Sebagian orang tidak bisa pergi bekerja tetapi masih dibayar oleh bos mereka. Untuk sekarang.

Sebagian orang terutama khawatir tentang apa yang harus ditonton selanjutnya di Netflix.

Sebagian orang menjadi relawan.

Sebagian orang akan kehilangan bisnis mereka.

Sebagian orang menyadari bahwa guru sekolah itu luar biasa.

Sebagian orang memesan makanan dari restoran lokal.

Sebagian orang merindukan pelukan.

Sebagian orang tidak dapat meyakinkan orang tua mereka bahwa wabah ini serius.

Sebagian orang khawatir tentang uang pensiun mereka.

Sebagian orang tidak pernah memiliki tabungan.

Sebagian orang akan menghadapi peningkatan KDRT.

Sebagian orang membeli baju baru di mall.

Sebagian orang harus tidur di jalan karena tidak dapat membayar kos.

Sebagian orang tidak akan berhenti berpesta.

Sebagian orang kehilangan hak pengasuhan anak mereka.

Sebagian orang melakukan segala yang mereka bisa untuk tetap tenang dan itu tidak berhasil.

Sebagian orang menonton Outbreak & Contagion dan bermain Pandemic.

Sebagian orang tidak tahu apa yang akan mereka lakukan.

Sebagian orang kewalahan dengan saran tentang cara bekerja dari rumah.

Sebagian orang terlalu banyak minum atau makan.

Sebagian orang berpikir tentang masa depan.

Sebagian orang kesal karena mereka tidak bisa jalan-jalan.

Sebagian orang jatuh cinta lagi pada pasangan mereka.

Sebagian orang tidak akan melihat keluarga mereka selama berbulan-bulan.

Sebagian orang tidak dapat melihat cahaya di ujung terowongan.

Sebagian orang akan menyadari bahwa mereka perlu berpisah dengan pasangannya.

Sebagian orang bernyanyi bersama.

Sebagian orang tidak ada dalam daftar ini.

Ini semua didasarkan pada pengalaman orang-orang nyata yang diambil dari berita, media sosial, dan teman. Jangan khawatir: Anda bukan satu-satunya orang yang mengalami apa yang Anda alami. Tapi sadarlah: tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama dengan Anda. Namun pada akhirnya, kita semua menghadapi ini bersama-sama.

Tulisan ini diadaptasi dari kottke.org


Pagebluk dan Ramadan di rantau ☀︎


Tahun ini adalah Ramadan keempat saya jauh dari tanah air. Rasanya baru kemarin saya menginjakkan kaki di Nottingham, Inggris. Saya tiba di sini bulan Maret 2017, mendarat di bandara internasional Birmingham setelah menempuh perjalanan lebih dari 16 jam dari Jakarta via Amsterdam.

Dibandingkan dengan tiga tahun lalu, ada beberapa perubahan dalam kehidupan saya. Anggota keluarga kami bertambah seorang dengan kelahiran putra kedua pada tahun 2018. Kami juga pindah rumah kontrakan dari wilayah Dunkirk ke daerah Radford. Harga sewa rumah di daerah ini lebih murah dan lokasinya lebih dekat dengan komunitas orang Indonesia dan komunitas Muslim. Alhamdulillah.

Selain perbedaan kondisi keluarga, Ramadan tahun ini diwarnai dengan sebuah peristiwa global yang akan tercatat di sejarah umat manusia modern. Sebuah pandemi, alias pagebluk.

Seperti halnya negara-negara lain, Britania Raya tidak bebas dari penyebaran SARS-CoV-2 dan penyakit Covid-19. Bahkan per 17 Mei 2020, menurut data terbaru, total kasus terkonfirmasi di Britania Raya mencapai lebih dari 240.000. Korban meninggal sudah melebihi 30.000 orang. Secara global, jumlah ini hanya kalah dari Amerika Serikat.

Untuk mengatasi penyebaran virus ini, pemerintah Britania Raya mengeluarkan kebijakan lockdown seperti halnya banyak negara lain. Pesan yang disampaikan oleh Perdana Menteri Boris Johnson adalah Stay Home, Protect NHS, Save Lives. Tetap di rumah, lindungi NHS, selamatkan nyawa. Selama beberapa minggu, warga non pekerja kunci tidak boleh keluar rumah kecuali untuk: belanja kebutuhan sehari-hari dan obat ke apotek, olahraga sendirian, atau pergi ke rumah sakit. Pekerja kunci adalah mereka yang bekerja sebagai dokter, perawat, kurir, kasir supermarket, dan lainnya.

Semua bisnis non-esensial harus ditutup. Pekerja disarankan bekerja dari rumah. Sekolah ditutup kecuali untuk anak pekerja kunci. Rumah-rumah ibadah ditutup.

Minggu lalu, kebijakan ini agak dilonggarkan. Sekarang, warga bisa olahraga barengan dengan anggota keluarga. Selain itu, kami boleh jalan-jalan atau piknik ke taman dan ruang terbuka luar. Pekerja yang tidak mungkin bekerja dari rumah, seperti di bidang konstruksi, didorong untuk bekerja kembali. Seiring dengan penurunan jumlah infeksi, kebijakan ini kemungkinan akan terus diperlonggar.

Walaupun tanpa pagebluk, pengalaman Ramadan di sini berbeda dengan kebiasaan di tanah air. Tidak ada azan menggunakan pengeras suara. Tak ada ngabuburit membeli es kelapa muda di pinggir jalan. Tidak ada pemuda yang membangunkan sahur keliling kampung. Tak ada acara buka bersama alumni SD angkatan 1999.

Selain itu, durasi puasa di daerah lintang utara seperti Inggris bisa berubah banyak bergantung musim. Tahun 2017 lalu saat pertama kali saya mengalami puasa di sini, waktu subuh kira-kira pukul 3 pagi, dan magrib sekitar pukul 21.30. Jadi, durasi puasa bisa lebih dari 18 jam. Tahun ini agak lebih pendek, tapi tetap lebih dari 17 jam. Ini adalah tantangan tersendiri.

Dengan adanya kebijakan lockdown dan situasi pagebluk, masjid pun ditutup. Muslim Council of Britain mengeluarkan panduan Ramadan di Rumah. Tak ada salat lima waktu berjamaah. Tak ada iftar bersama. Tak ada tarawih. Tak ada iktikaf di masjid.

Tanpa ibadah yang bersifat berjamaah di masjid, Ramadan kali ini terasa lebih hening. Lebih banyak fokus pada diri sendiri dan keluarga. Kegiatan ramadan tetap bisa dilakukan di rumah. Saya dan istri mengusahakan agar suasananya tetap terasa normal. Kami tetap tadarus. Kami berusaha tarawih tiap hari. Istri saya tetap masak kolak pisang dan ubi.

Aspek sosial Ramadan yang kami lakukan paling tidak ada dua hal: saling berbalas kirim makanan buka puasa dengan tetangga kami yang baik sekali dan tadarus daring tiga kali sepekan, ibu-ibu dan bapak-bapak terpisah.

Alhamdulillah, dengan kemajuan teknologi, banyak rutinitas yang biasa dilakukan Ramadan bisa dilakukan secara daring. Teknologi streaming dan panggilan video sangat membantu kami untuk mendengarkan ceramah, tadarus, dan silaturahim dengan teman dan keluarga. Tahun lalu, kami tidak mudik ke Indonesia dan setelah salat Idul Fitri kami sungkem virtual via panggilan video kepada orang tua kami. Tahun ini pun akan sama. Insya Allah.

Saya sadar bahwa pagebluk, pembatasan sosial (social distancing), dan kebijakan lockdown sangat berpengaruh terhadap penghidupan banyak masyarakat dan ekonomi secara umum. Kami bersyukur bahwa Allah masih memberikan nikmat sehat dan rezeki makan tiap hari. Puasa, dengan atribut menahan nafsunya, mudah-mudahan membuat kami bisa lebih peka terhadap kondisi warga yang lemah, kekurangan, dhuafa. Zakat, dengan atribut filantropinya, semoga menjadikan kami lebih ringan berbagi rezeki dari Allah.

Saya bukan epidemiolog, bukan dokter, bukan ekonom, bukan pula pengambil kebijakan. Saya hanya bisa diam di rumah. Saya hanya bisa membantu tetangga semampu saya. Saya hanya bisa berdoa. Doa yang saya panjatkan adalah agar Allah tidak membebankan kepada kami beban berat seperti yang dibebankan kepada orang-orang sebelum kami dan agar Allah tidak memikulkan pada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.

Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa fa’fuanni.


Hello, world! ☀︎


I’ve had multiple blog since the beginning of my introduction to Internet. I have accounts on Blogger, Wordpress, and Tumblr. Yet, here I am writing the very first blog entry on my new personal blog.

I have this domain for a long time. I consider it a nice domain for my personal blog. It has my full name on it with possibilities for another subdomains when there are another cahya utama family that want to blog.

I intend to write regularly in English and Indonesian here. I am working on practicing my English and this is one of my tools for it. I hope I can consistently wrote two entries for each week.

This is exciting times for blogging. Hope you agree with me. :)